Pidato Wilson Lalengke di PBB Menggugah Peran Aktif dalam Krisis Kemanusiaan Global


Jakarta,matalensa.my.id – Di Markas Besar PBB, New York, suara lantang dari Indonesia, Wilson Lalengke, Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), bergema pada 8 Oktober 2025. Dalam pidatonya, Lalengke menyerukan kepada dunia untuk tidak lagi mengabaikan krisis kemanusiaan yang melanda berbagai belahan dunia.
 
Di hadapan sekitar 400 delegasi, Wilson Lalengke menekankan bahwa hak untuk hidup adalah hak yang tidak bisa ditawar. Ia menyoroti berbagai konflik dan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza, Sudan, Myanmar, Ukraina, serta nasib pengungsi di Tindouf, Maroko. Menurutnya, semua penderitaan manusia sama berharganya dan tidak boleh diabaikan berdasarkan kepentingan politik.
 
"Diam berarti turut bersalah terhadap berbagai pelanggaran hak asasi manusia!" tegas Lalengke, yang juga alumnus Universitas Riau.
 
Pidato tersebut mengkritik PBB yang dinilai belum optimal dalam menjalankan perannya sebagai penjaga martabat manusia. Lalengke menekankan perlunya reformasi mendalam agar PBB kembali pada jati dirinya dan memperluas partisipasi masyarakat sipil dalam upaya kemanusiaan.
 
Menariknya, beberapa jam setelah pidato tersebut, dunia dikejutkan dengan kabar kesepakatan damai awal antara Israel dan Palestina. Meski belum dapat dipastikan hubungannya, banyak pihak meyakini bahwa pidato Wilson Lalengke telah menjadi percikan moral yang menggugah kesadaran dunia.
 
Dukungan terhadap perbaikan kemanusiaan dan keadilan global pun meluas dengan tagar #VoiceForHumanity menjadi tren di berbagai platform media sosial.
 
Wilson Lalengke menegaskan bahwa perjuangan kemanusiaan tidak memerlukan mandat politik, melainkan keberanian nurani. Ia mengajak semua pihak untuk terus berjuang memperbaiki krisis kemanusiaan global dan menolak diam di hadapan ketidakadilan.
 
"Ini bukan tentang saya, ini tentang kita—manusia yang menolak diam di hadapan ketidakadilan," ujarnya.
 
Sebelum meninggalkan New York, Wilson Lalengke menulis, "Aku tidak membawa nama negara, tetapi aku membawa suara manusia." Kalimat ini menjadi pengingat bahwa perubahan dunia bisa dimulai dari satu suara yang jujur dan satu hati yang berani

Red/tim

Posting Komentar

0 Komentar