Jawa Timur,30/10/2025, matalensa.my.id – Curah hujan tinggi yang melanda berbagai wilayah Indonesia selama sepekan terakhir telah menyebabkan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Banjir, tanah longsor, dan gangguan aktivitas pertanian dilaporkan terjadi di sejumlah daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa potensi bencana hidrometeorologi masih akan berlanjut hingga awal November 2025.
Penyebab Cuaca Ekstrem
Menurut BMKG, peningkatan curah hujan disebabkan oleh penguatan Monsun Asia yang membawa massa udara lembap ke wilayah Indonesia bagian barat, serta anomali suhu muka laut di sekitar perairan Indonesia yang meningkatkan penguapan. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa aktivitas konvektif yang kuat terpantau di sebagian besar Pulau Jawa, Sumatra, dan Sulawesi, memicu potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang.
Dampak di Berbagai Daerah
Beberapa daerah mengalami dampak paling parah akibat curah hujan tinggi ini. Di Semarang, banjir setinggi 60 cm menutup sebagian jalur Pantura, mengganggu arus kendaraan logistik. Di Bogor, tanah longsor di wilayah perbukitan Cisarua merusak beberapa rumah warga. Sementara itu, di Jember, lahan pertanian terendam air akibat hujan dengan intensitas di atas 150 mm per hari. BPBD setempat mencatat bahwa sedikitnya 1.200 warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Dampak pada Sektor Pertanian dan Ekonomi
Kementerian Pertanian melaporkan bahwa ratusan hektare sawah di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan tergenang air, memaksa petani menunda masa tanam. Selain itu, pasokan hasil bumi di pasar tradisional wilayah Jabodetabek menurun, menyebabkan kenaikan harga sayur dan cabai.
Ancaman Kesehatan dan Lingkungan
Kementerian Kesehatan mengingatkan potensi meningkatnya penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah dan ISPA akibat genangan air dan kelembapan tinggi. Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah perkembangbiakan nyamuk. Tumpukan sampah di aliran sungai dan saluran kota juga memperparah risiko banjir dan menurunkan kualitas air permukaan.
Upaya Pemerintah dan Imbauan untuk Warga
BNPB dan BPBD telah menyiapkan posko siaga bencana di daerah berisiko tinggi. Pemerintah daerah diminta memperkuat sistem drainase dan melakukan pembersihan rutin saluran air. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, mengimbau warga untuk terus memantau informasi cuaca dari BMKG dan mengikuti arahan petugas lapangan. Warga juga diimbau untuk tidak beraktivitas di dekat sungai atau lereng saat hujan lebat, menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting dan kebutuhan darurat, serta melapor ke aparat atau posko jika terjadi genangan atau pergerakan tanah.
Tantangan ke Depan
Fenomena hujan ekstrem ini menyoroti perlunya adaptasi terhadap perubahan iklim di tingkat lokal. Pemerintah daerah didorong untuk memperkuat infrastruktur penahan air, memperluas ruang terbuka hijau, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan.
Tim/red
0 Komentar